Buku ini mengantarkan pembaca untuk menelusuri jejak perjalanan Sultan Hasanuddin dari pendidikan di masa mudanya, bergabung dalam berbagai tugas, hingga masa kepemimpinannya menghadapi tekanan VOC yang semakin tidak berperikemanusiaan. Perang Makassar, Perjanjian Bongaya, dan pertahanan terakhir di Benteng Sombaopu tidak hanya dikisahkan sebagai peristiwa sejarah semata, melainkan potret pergu…
Hidup Kartini begitu singkat, 25 tahun. Namun gagasan-gagasan progresifnya tak lekang oleh zaman. Tulisannya menggambarkan perjuangan panjang di “ruang dalam” yang belum selesai sekalipun ke mer deka an di “ruang luar” sudah tercapai. Kartini adalah kontradiksi: ia cerdas sekaligus lemah hati. Ia menyerap ide masyarakat Barat tapi tak takluk pada adat. Ia membawa per juangan perem pua…
Soekarno tak pernah berhenti menjadi ikon revolusi Nasional Indonesia yang paling menonjol—mungkin seperti Che Guevara bagi Kuba. Di banyak rumah, foto-fotonya, kendati dalam kertas yang sudah menguning di balik kaca pigura yang buram, tidak pernah diturunkan dari dinding meski pemerintahan telah berganti-ganti. Ia dicintai sekaligus dicaci. Tidak seorang pun dalam peradaban modern ini yang …
Yang sakit itu Soedirman, tapi Panglima Besar tidak pernahsakit.” Pagi itu, 19 Desember 1948, Panglima Besar bangkit dan memutuskan memimpin pasukan keluar dari Yogyakarta, mengkonsolidasikan tentara,dan mempertahankan Republik dengan bergerilya. Panglima Besar sudah terikat sumpah: haram menyerah bagi tentara. Karena ikrar inilah Soedirman menolak bujukan Sukarno untuk berdiam di Yogyakarta…
Lahir dari keluarga kaya di Batavia, MH Thamrin berikhtiar memperbaiki kehidupan warga miskin lewat Dewan Kota dan kemudian Dewan Rakyat—lembaga yang kerap dianggap sebagai boneka pemerintah kolonial. Di sanalah dia bersuara lantang memperjuangkan nasib kaum bumiputra. Saat Sukarno, salah satu tokoh gerakan nonkooperatif, ditangkap karena aktivitas politiknya, Thamrin—yang dijadikan simbol …